Dahlan

K.H Ahmad Dahlan – Banyumas, Central Java

Menceritakan kisah Muhammad Darwis, seorang anak cerdas yang dipenuhi dengan rasa penasaran mengenai perihal kehidupan masyarakatnya yang ditempa pelbagai problematika sosial dan keagamaan. Kemiskinan dan mental yang memiskinkan terpelihara. Kejumudan dan budaya lama yang kian menggerogoti eksistensi kehidupan rakya membuat Darwis khawatir dan prihatin. Hingga sampailah suatu waktu semuanya dikritisi habis oleh Darwis kecil. Rasa penasarannya ini akhirnya membentuk Darwis kecil menjadi seorang martir. Membawa serta orang-orang di sekitarnya menuju pencerahan dan cita-cita memerdekakan rakyatnya dari penjajahan kolonial dan stagnasi sosial di kala dia menginjak dewasa.

Darwis yang egaliter dan kharismatik ternyata tidak hanya membangkitkan gairah dari orang-orang di sekitarnya. Orang-orang besar yang juga sama-sama berjuangan demi kemerdekaan bangsa pun ikut bersimpati pada perjuangannya di kala itu. Bahkan Tjokroaminoto sebagai pimpinan Serekat Islam di kala itu merasa tertarik untuk berguru dan menggandeng Darwis untuk sama-sama berjuang.

Buah perjuangan Darwis sampai sekarang dapat kita rasakan. Organisasi kemasyarakatan, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit dan yayasan sosial rintisan Muhammad Darwis yang pada awalnya hanya berjumlah tidak seberapa kini telah berdiri kokoh di mana-mana. Membawa lambang matahari ‘sang surya’, dan kini gaungnya kita kenal dengan Muhammadiyah. Inilah kisahnya, seorang alim bernama Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal sebagai K.H Ahmad Dahlan. Membentuk sebuah sejarah bangsa yang kental dengan nuansa semangat perjuangan namun tetap diimbangi dengan nafas-nafas Islami yang penuh hikmah menyejukkan.

Advertisements

Jemuran

terik dan mendung terlihat saling singgung. sepertinya begitulah cara alam berdialektika. untuk menentukan siapa yang akan menemui kita selanjutnya

Terik panas di pagi hari
Langit pun membiru, cerah tak terhalangi
Cucian berpindah ke tiang jemuran bertali

Namun, buru-buru awan menghampiri
Menyelimuti, dan gelap pun kembali lagi
Seakan tak sudi. Jemuran kering dengan dini

Langit juga bereaksi, ikut menimpali
Kini berkongsi dengan matahari
Membawa hangat seketika ke seluruh bagian bumi

Syukurlah. Kini akan coba ku jemur lagi
Harapan? Tentu tak terhujani
Jemuran kan kering kembali


8 November 2017

Terjang

At Brebes, Central Java. Destination for vacation. For whom dreams about liberation

Bangun pagi, berteriak lantang

Seorang anak pergi sekolah

Menenteng baju melipat buku

Berjalan kaki sedari tadi

Bajunya basah mukanya merah

Keringat berpeluh terjun ke bawah

Adakalanya tangan dikibas atas ke bawah

Mengundang angin untuk bersinggah

Ibunya kini pergi mencari

Ditemukan anaknya di seberang jalan

Si Ibu pun berlari tak karuan

Membawa kotak makan kecoklatan

Ibunya berpesan, “Nak, ini habiskan!”

Si anak mengangguk mengiyakan

Itulah cerita kepunyaan kita

Dari bagian timur, kota setelah sunda

Terjang

Bangun pagi, berteriak lantang

Seorang anak pergi sekolah

Menenteng baju melipat buku

Berjalan kaki sedari tadi

Bajunya basah mukanya merah

Keringat berpeluh terjun ke bawah

Adakalanya tangan dikibas atas ke bawah

Mengundang angin untuk bersinggah

Ibunya kini pergi mencari

Ditemukan anaknya di seberang jalan

Si Ibu pun berlari tak karuan

Membawa kotak makan kecoklatan

Ibunya berpesan, “Nak, habiskan!”

Si anak mengangguk mengiyakan

Itulah cerita kepunyaan kita

Dari bagian timur, kota setelah sunda

Lapak

Ada cerita daro bacaan yang kita pegang. Ada kemelut mereka yang berjuang. Sekadar mencerdaskan dan sedikit meminta penghidupan. Walau kadang tak sepadan. Begitulah kehidupan banyak tabir yang menghalagi. Hingga jasa bisa ditafsir salah mengerti. Berjuanglah. Semangatlah. Bagi mereka yang berjuang dalam kekalutan. Di zaman edan ini. Dimana bacaan tergantikan dengan sebuah material yang disebut teknologi

Create your website at WordPress.com
Get started