Katarsis

Semacam usaha mengembalikan diri pada konsistensi dan kedaadaan terbaiknya. Katarsis muncul akibat dari adanya suatu kondisi yang menekan secara psikologis dan jasmaniah yang mengakibatkan seseorang berusaha memberontak untuk mencari jalan keluar alternatif disamping penyelesaian umum yang bisa dilakukan. Katarsis pada pada hegemoni Gramsci, hampir sama dengan pengertian menurut para psikoanalis seperti Freud.

Menurut Gramsci, katarsis muncul diantara kelompok massa, dalam masa transisi antara hegemoni dan revolusi. Dorongannya sama yaitu untuk revolusi. Dalam Gramsci, katarsis pada massa ini harus dibantu dan memberdayakan para savior, dalam hal ini yaitu para cendekiawan atau intelektual organik.

Bila kita urutkan secara sederhana. Analisis Gramsci terhadap metode marxis haruslah melibatkan peran dari luar revolusi itu sendiri yang dalam hal ini bisa intelektual dan atau para simpatisan revolusi. Yang dengan catatan harus secara konsisten dan penuh komitmen mendukun revolusi. Dan saya kira ini pun perlu kita resapi dan maknai dalam perilaku manusia.

Manusia memerlukan seperangkat sistem yang membantunya dalam melakukan berbagai hal menurut Gramsci karena manusia adalah makhluk sosial. Dan hal ini selaras dengan pandangan umum para filosof lain tentang manusia.

Dalam mencari, memilih dan memiliki sistem pendukung ini manusia memerlukan inisiatif terlebih dahulu dari dalam dirinya. Yaitu optimisme dan analisis realitas yang berjalan beriringan.

Adanya optimisme ini dan pembacaan realitas ini. Akan memunculkan apa yang disebut dengan praksis dan cita-cita yang secara sugestif mempengaruhi manusian.

Setelah itu nantinya baru dari proses ini manusia dapat berlanjut ke tahap yang kedua. Yaitu adalah tahap akomodasi dan asimilasi nilai dengan kelompoknya. Asimilasi dan komodasi ini bertujuan untuk memberikan keselarasan maksud dari setiap latar belakang dan praksis yang akan dikaksanakan nantinya.

Nah secara sederhana kita dapat memahami bahwa dalam melakukan sesuatu akan menjadi mudah kiranya apabila. Kita memiliki tempat dan sesorang yang dapat dengan sukarela menjadi kawan perjuangan sekaligus kawan diskusi dalam memahami dirinya dan kawannya itu seblum nantinya beranjak pada praksis

Advertisements

Kerumunan


Dalam gambar/

Riyan Ibrahim- Agt 2015

Langit hitam yang tadinya kelam mendadak runyam ku lihat dari kejauhan

Siap gerangan yang lancang berbuat demikian? Aku hanya menggumam pelan

Kerumunan ku lihat terbagi menjadi dua. Yang pertama bersorak bersuka cita. Yang kedua merana karena sesamanya kehilangan nyawa

Dalam hatiku kini mulai mencaci. Dunia macam apa ini!!! Katanya satu jua kenapa kini harus terbagi dua!!!

Salahkan saja aku. Salahkan saja ucapanku. Dan salahkan saja perbuatanku. Karena adaku bukan apa-apa. Hanya sebatas bagian, namun tak sedikit bermakna dalam kerumunan


Tahun baru biru-2018
Luthfie Alie

Pendidikan Itu Membebaskan (1)

Sebuah Catatan Perjalanan Menemukan Gagasan

Purwokerto, 29 Desember 2018


sekolah2

Gambar/mediaindonesia.com

Beberapa hari ke belakang sempat saya tertarik untuk membahas isu-isu nasional yang sedang berkembang di masyarakat. Karena adanya rasa penasaran itu maka saya pun coba untuk mencari beberapa buku dan artikel yang berkaitan dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Kemudian saya pun menemukan artikel yang membahas mengenai peran dan tanggung jawab lembaga pendidikan di Indonesia. Termuat di laman situs web PWMU yang rilis (28 /12/2018) Ketua Umum Pimpinan Wilayah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jawa Timur Prof Dr Zainuddin Maliki MSi menyampaikan berbagai hal mengenai kondisi pendidikan Indonesia saat ini.

Beliau menyampaikan bahwa kondisi pendidikan saat ini yang terlalu mekanis dan tidak realistis terhadap kondisi yang ada. Dimana keberhasilan pendidikan hanya diukur pada berdasarkan kecakapan teknis semata. Beliau juga menyayangkan pendidikan di Indonesia yang masih bersifat learning to know, dimana pendidikan disalah artikan sebagai alat pembelajaran bukan sebagai alat untuk mendidik. Dimana peserta didik terus dijejali dengan berbagai materi pembelajaran, mengakibatkan waktu bagi pendidik untuk memberikan pendidikan habis hanya untuk sekedar menyampaikan materi.

Saya cukup setuju dengan pernyataan beliau ini sehingga saya berkesimpulan, wajar apabila peserta didik yang dihasilkan oleh lemabaga-lembaga pendidikan hanya dijadikan sebagai objek pemenuhan target statistik saja. Dan wajar pabila kritik selalu ditujukan kepada pemerintah siapapun pemimpinnya bahwa pendidikan di Indonesia belum dapat memenuhi misi Negara untuk membentuk generasi yang berkesadaran dan cerdas baik secara intelektual maupun mental. (bersambung)


 

Hanya Aku

Aku duduk terdiam, melihatmu jungkir balik tidak karuan

Aku mencermatimu seksama meskipun bukan berarti aku punya rasa

Aku terkesima melihatmu melakukan ini dan itu, tapi bukan berarti aku mengagumimu

Aku bertanya tanya dalam hati, “Sedang apakah dirimu???”

Aku terheran heran kenapa kamu bisa begitu

Semua pertanyaan berkecamuk di dalam, bukan berarti aku ingin mencarikanmu jawaban

Hanya egoku yang berkata demikian, tidak lebih, dan begitulah adanya

Segera setalah itu aku menemukan ilham sedikit mencerahkan

Hanya untuk sekadar mencari alasan, kenapa aku bisa seperti ini tertekan

Jawabannya sederhana

Ternyata aku tak tau kamu siapa!!!

Air

2017-10-08-07-58-36-1100x733Bila air adalah perumpa suatu kebesaran seseorang karena ilmunya

Maka aku tidak mau menjadi air yang beriak, yang menggaduh hanya karena terjatuh dari ketinggian yang membuatku tak utuh

Namun akupun tak mau menjadi air yang dalam nan tenang, sementara aku tidak jernih dan tergenang. Aku hanya akan menjadi air yang tercemar

Yang ku mau, aku menjadi diriku. Sedangkalnya aku, aku ingin tetap bersih ketika mengalir ribut dalam genangan lumpur

Yang ku mau, aku menjadi diriku. Memberi pantulan nyata yang ramah meski dalam tak terjamah. Continue reading “Air”

Bosan

Setangguhnya Ida tetap berisak tangisĀ  melihat sekitar

Di hari sabtu penghujung malam yang tak lama akan usai

Ida bergegas berselimut namun tetap saja tersadar

Tetap teringat janjinya yang besokĀ  harus ditepati

Kasian Ida ia tangguh namun tetap rapuh

Bergelut dengan kebiasan yang menjemukan

Selalu berjanji dan mempermainkan hati

Setiap sabtu malam dan minggu pagi

Ida berisak tangis setiap minggu dirinya terbelenggu

Ditagih rentenir yang menunggu di depan pintu